Pengamat: Beberapa Orang Masuk Parpol Semata-mata Cari Uang

Jakarta – Praktik korupsi masih banyak dilakukan politisi atau kader partai politik (parpol) banyak yang terjerat kasus korupsi. Salah satu penyebabnya yakni motivasi keliru seseorang yang masuk parpol. “Beberapa orang masuk partai sebetulnya semata-mata cari uang, bahkan orang yang sudah punya uang sekalipun demikian. Mungkin di situ problem-nya sehingga politisi belum lepas dari jerat kasus korupsi,” kata pengamat politik, Jeirry Sumampouw, di Jakarta, Senin (5/12). Dengan kekuasaan yang dimiliki, lanjut dia, uang yang didapat tentu semakin banyak. Para politisi yang terlibat korupsi, kata Jeirry, sejatinya telah mengetahui adanya penyalahgunaan kekuasaan. “Mereka yang berkuasa ini sudah tahu risikonya, apalagi dengan iklim pemberantasan korupsi seperti sekarang. Banyak aturan yang menutup celah korupsi, tapi faktanya dilakukan juga,” ujarnya. Jeirry menyatakan, sistem politik dan demokrasi yang berbiaya mahal, merupakan alasan lain penyebab korupsi di kalangan politisi. Namun, menurutnya, politik biaya tinggi dapat ditekan. “Politisi bisa lakukan sesuatu, agar biaya politik rendah. Sehingga, enggak ada alasan lalu berupaya kumpulkan uang banyak karena sudah keluar uang banyak,” tegasnya. Meningkatkan kinerja, menurutnya, menjadi cara tertentu agar menekan biaya politik. “Kita sudah lihat dalam pemilu, ada juga kok politisi jadi anggota DPR dengan biaya kecil, karena mereka tingkatkan dan perbaiki kinerja. Tapi kan banyak yang enggak mau capek,” tukas Koordinator Komite Pemilih Indonesia (Tepi) ini. Dana Parpol Jeirry pesimistis wacana menaikkan dana bantuan parpol akan mengurangi praktik korupsi di kalangan politisi. Sebab, persoalan korupsi bukan terletak pada jumlah dana dari negara untuk parpol. “Kalau ada penambahan dana untuk parpol, lalu dihubungkan punya efek terhadap korupsi elite berkurang, saya enggak yakin,” kata Jeirry. Dia menjelaskan, sistem pemilu Indonesia menempatkan elite politik berhubungan langsunng dengan masyarakat tanpa melalui parpol. “Elite punya kepentingan dengan publik, transaksi langsung, tidak lewat parpol. Jadi bagaimana bantuan parpol punya pengaruh terhadap pengurangan biaya politik dan punya pengaruh terhadap makin kurangnya, atau sedikit dan hilangnya korupsi di kalangan elite. Saya enggak lihat ada hubungan langsung,” jelasnya. Dia juga mengkritisi terkait parpol yang selalu mengeluh kekurangan uang. “Faktanya, kegiatan-kegiatan parpol menghamburkan uang banyak. Ada kemewahan dalam kegiatan-kegiatan parpol,” ucapnya. Menurutnya, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kemungkinan terlalu percaya dengan mulut manis pimpinan parpol, sehingga akhirnya mendukung dinaikkannya dana parpol. “Kalau kita berharap dana partai punya efek mengurangnya atau hilangnya korupsi, saya kira kita mimpi,” ujarnya. Carlos KY Paath/FER Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu